Maskoki | Pemeliharaan larva


Bila kondisi lingkungan cukup mendukung, telur maskoki akan menetas 1 – 3 hari setelah proses pembuahan. Penetasan telur tergantung pada temperatur air dan kandungan oksigen di sekelilingnya. Temperatur yang baik untuk pemijahan serta penetasan telur antara 19 – 20°C. Bila temperatur air terlalu tinngi atau endah dari kisaran tersebut, kemungkinana penetasan telur akan gagal. Meskipun ada beberapa telur yang menetas, umumnya individu yang dihasilkan akan mengalami cacat terutama pada bagian ekornya. Tinggi permukaan air pada kolam penetasan atau pemeliharaan larva cukup 15 – 25 cm. Hal ini disebabkan kemampuan larva masih sangat terbatas, baik untuk berenang maupun untuk mencari makanan. Setelah anak maskoki sudah mulai berenang, sebaiknya tanaman eceng gondo segera di angkat. Larva maskoki sangat peka dengan perubahan kondisi dan temperatur air karena dapat mengakibatkan kematian secara massal. Selain karena proses penguraian kotoran dan sisa makanan, penurunan kualitas air dapat disebabkan karena adanya telur – telur yang gagal menetas atau anak ikan yang mati sehingga menimbulkan pembusukan.

Larva maskoki yang berumur dua hari terlihat sebesar jarum. Selama lima hari pertama dalam hidupnya, larva ikan tidak perlu diberimakanan tambahan sebab masih memiliki kantung kuning telur bawaan sebagai cadangan makanannya. Pemberian pakan pada larva yang belum berumur 5 hari dapat menyebabkan kematian secara massal, sebab makanan tersebut tidak akan dimakan dan akan tertimbun di dasar kolam bersama kotorannya sehingga dapat menimbulkan proses pembusukan yang membahayakan kehidupan anak maskoki.

Pada hari ke 6, anak ikan sudah dapat diberi pakan tambahan karena cadangan makanannya sudah habis dan anak ikan sudah mulai beradaptasi dengan lingkungn di sekelilingnya. Makanan tambahan yang di berikan berupa makanan buatan, makanan alamiah, atau campuran keduanya. Makanan buatan yang diberikan biasanya terbuat dari rebusaan kuning tekur yang dilarutkan ke dalam air. Cara pembuatannya adalah dengan mencampurkan kuning telur dan tepung terigu (perbandingan 1 : 1). Campuran tersebut kemudian dibungkus dengan kain kasa yang halus dan dilarutkan dalam air. Bagian yang larut kemudian diberikan sebagai makanan ikan dengan cara menyemprotkannya keseluruh permukaan air di kolam mempergunakan sprayer. Jangan berlebihan memberikan makanan, karena sisa makanan akan membusuk dan mengakibatkan kesehatan ikan dan pertumbuhannya terganggu.

Larva ikan juga diberi makanan alamiah berupa kutu air. Penggunaan makanan alamiah dianggap lebih menguntungkan, selain kandungan proteinnya lebih lengkap, juga tidak menimbulkan pembusukan bila diberikan secara berlebihan. Untuk menghindari stres anak – anak ikan, sebaiknya air kolam tidak terlalu sering diganti. Sebab anak ikan masih terlalu peka dengan perubahan lingkungan yang terjadi secara tiba- tiba. Lakukan pergantian air setiap 5 hari sekali dengan menggunakan selang plastik (menyifon). Volume air yang diganti jangan melebihi 1/3 bagian dari volume air, dan sebaiknya air yang diganti berasal dari dasar kolam, tempat sisa makanan dan kotoran biasa tertimbun.

Pergantin air sebaiknya dilakukan pada sore hari kira – kira pukul 16.00 agar tidak terjadi perubahan temperatur yang terlalu drastis.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s